Selama ini gue terpaku sama teori bahwa disaat orang menolong kita, kita harus membalas budi orang yang menolong kita itu. Bentuk bales budi nya sih bisa macem-macem, mungkin dengan balik membantu atau cuma sekedar ngasih cokelat, eskrim, traktir makan atau apapun.
Tapi setelah nonton sebuah film, yang menurut gue inspiratif banget, gue jadi befikir ada yang bisa dimodifikasi dari teori yang gue sebut diatas tadi. Mungkin kamu bisa sepakat atau juga malah ga setuju sama pemikiran gue. Despite that, I just want to share it all with you.
Jadi ada film yang judulnya Pay It Forward yang bercerita tentang seorang anak berumur delapan tahun, bernama Trevor yang diberikan tugas oleh gurunya untuk memikirkan sebuah ide untuk mengubah dunia lalu ide itu harus diterapkan ke dalam sebuah tindakan.
Ide yang didapat oleh Trevor ini adalah dengan melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya, tetapi orang yang dia akan tolong ini adalah orang-orang yang memang tidak mampu melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri. Lalu setelah dia menolong tiga orang tersebut, maka untuk membalas budi, mereka masing-masing tidak perlu menolongnya, tetapi justru meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kebaikan lagi kepada tiga orang lainnya, dan begitu seterusnya. Menurut Trevor, kalau ide ini benar-benar dilakukan, maka dia yakin kalau suatu saat nanti dunia akan dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi. Ide nya tersebut dia namakan Pay It Forward, sesuai dengan judul dari filmnya.
Nah, berdasarkan cerita film ini mungkin kalo kita merenung sedikit, terkadang kita merasa ragu untuk menolong orang lain karena mungkin kita menyangka kalau bantuan yang kita berikan ngga akan berpengaruh besar juga di hidup mereka, karena sebenernya kan manusia harus bertanggung jawab terhadap hidupnya masing-masing. Tetapi ada alasan kenapa kita diciptakan sebagai makhluk sosial, yang memang membutuhkan keberadaan sesama. Salah satu alasannya adalah supaya kita saling tolong menolong.
Balik lagi ke teori Pay It Forward. Hal ini sangat memungkinkan untuk dilakukan dan langkah yang paling awal adalah kesiapan dan kerelaan kita untuk mulai dari diri sendiri untuk peduli dan melakukan kebaikan ke orang-orang disekitar kita.
Mungkin kamu punya pertanyaan, trus apa sih bedanya pay it forward sama pay it back? Dalam pay it back, apabila kamu menolong seseorang dan pada saat orang tersebut membalas kebaikan kamu, siklusnya berhenti disitu saja. Tetapi kalau di “Pay it forward” siklusnya bisa tak terhingga, karena pada saat kamu menolong orang lain, orang tersebut akan meneruskan untuk melakukan kebaikan lain pada orang lain lagi, dan akan terus berlanjut.
Tapi bukan berarti kamu jadinya ngga boleh bales budi (pay it back) ke orang yang sudah menolong kamu lho. Gue ngga bilang kalo itu sesuatu yang salah juga, tapi gue berpendapat bahwa kalau kedua teori ini kita terapkan secara bersamaan akan lebih membantu untuk membangkitkan kembali rasa kemanusiaan yang mungkin sudah terasa sedikit pudar. Inti dari kedua teori ini kan sebenernya sama, yaitu melakukan kebaikan. Apalagi di zaman sekarang, kalau kita nonton berita di TV isinya kebanyakan tentang kejahatan dari ibu bunuh anaknya sendiri, atau bapak perkosa anaknya sendiri, sampe ada orang yang membunuh orang lain cuma gara-gara hal sepele. Serem ya.
Mungkin semuanya terdengar agak klise tapi tujuan gue melalui blog ini adalah pengen mengajak untuk lebih peduli dan peka lagi sama sekitar kita. Apalagi sama orang yang memang bener-bener membutuhkan bantuan kita, as simple as bantuin mama untuk melakukan kegiatan rumah. Ngga terpaku sesuai filmnya juga, kalau mau nolong orang harus ke tiga orang, nope. Kalau emang kita cuma mampu menolong satu orang juga ngga masalah kok, asal dilakukan dengan ikhlas.
But then again, to encourage you a bit more, coba deh kamu inget-inget kalo setelah kamu melakukan sesuatu kebaikan, apa yang kamu rasakan? Apakah yang kamu rasain adalah rasa tenang dan senang? Kalau iya, menyenangkan bukan bisa merasa seperti itu? So let’s spread the goodness and pass it on. Pay it forward to others around us.

0 komentar:
Posting Komentar