Jumat, 31 Juli 2015

When You Can Live Forever

Diposting oleh Dian di 09.58 0 komentar
I read my best buddy's personal message on LINE

When you can live forever, what do you live for?

I was stunned. Many people wish they could live forever. I wish I could live forever. But, if God grants this wish, what do I live for? My life will be meaningless when the people I love have gone. Really.

Maybe God won't let us live forever because most of us don't have aims in life. We just live this life, go with the flow. Maybe people in modern days live shorter because people lose their hopes gradually. What do we live for? What do I live for? Am I really living or just going with the flow? Oh, no. I will do heaps of things. I have a lot of things I want to do. There are plenty of things I haven't done in life, like… Travel around the world, meet Coldplay, get married, see the Northern Lights, find at least one thing each day that makes me happy and record it for a year, and more… and more…

Rabu, 15 Juli 2015

:)

Diposting oleh Dian di 16.44 0 komentar
"People want to know that they belong, they're needed, they're loved, they're wanted. That's it."

Hari ini ada hal yang gue sadari. Kalau gue dikelilingi sama orang-orang yang buat gue jadi salah satu orang beruntung dari sekian banyak orang-orang beruntung di dunia ini. Karena kehadiran mereka semua. Akhirnya gue sadar, mereka semua yang buat gue bisa terus ngejalanin hari-hari, ketawa, nangis, dan ngerasain berbagai macam perasaan. Mereka yang buat gue bisa bersyukur sebagai diri gue sekarang ini (engga termasuk kejelekan-kejelekan gue). Gue bukan orang yang pintar mengekspresikan perasaan gue dengan benar, gue juga bukan orang yang ahli menuliskan perasaan gue untuk bisa dimengerti. Dan bukan orang yang bisa ngebalas semua kebaikan yang gue terima dari orang-orang disekitar gue. Walaupun begitu, gue pengen tetap berusaha untuk menuliskan makna tentang kehadiran mereka. Tulisan ini bakal gue baca ulang kalau lagi down untuk ngingetin, gue punya orang-orang yang (pernah ataupun masih) pengen gue tetap berusaha untuk terus belajar jadi pribadi yang lebih baik dan terus nyoba untuk bisa jadi berguna. Ngga useless.

Ada beberapa dari mereka yang jarang gue publikasikan yang ngga banyak orang tau kalau gue dekat sama mereka dan sering ngabisin waktu sama mereka. Gue bukan salah satu orang yang memanfaatkan dengan maksimal kegunaan media sosial untuk mempublikasikan kegiatan gue sehari-hari atau semua momen momen spesial gue ke banyak orang. Cuma disaat gue lagi kepengen. Itu bukan karena gue ngga senang, ngga bangga atau juga ngga mau ada yang tau. Some things are just too precious to be shared with many people. Karena mereka terlalu berharga, update di media sosial bukan hal yang utama bagi gue karena yang terutama adalah menikmati waktu kebersamaan yang saat itu lagi berlangsung. Bukan berarti orang-orang yang update ngga bisa menikmati waktu mereka, setiap orang punya cara mereka sendiri untuk mengekspresikan rasa senang. Dan gue memilih cara mengekspresikan rasa senang gue saat bersama mereka dengan ngga sibuk sama hp gue.

Ada beberapa dari mereka juga adalah orang orang baru yang tanpa gue sadarin udah ngambil tempat di hati gue. Salah satu dari mereka pernah ngepost di path dengan caption "teman baru rasa sewindu". Iya, walaupun gue baru kenal mereka, tapi rasa peduli mereka, kelucuan mereka, tingkah mereka, obrolan obrolan gue dengan mereka ngga menandakan kalau mereka adalah orang orang asing yang baru aja datang, dan berubah jadi orang orang yang gue harap mereka bisa menetap lebih lama atau kalau boleh seterusnya.

Words can't even describe their kindness. I won't stop say thank you to all of them for the supports and prayers and for always been there whenever i'm down even when i'm in the lowest mood. I know sometimes i scared them, but they should know that because i feel being myself when i'm with them. They make me comfortable in a weird way. They are not always perfect but for me it feels perfect having them in my life.

There will be plenty of times in our lives when we feel that life is too hard too difficult for us to go through it. The times where it seems like no one is there for us. The times where we lose all the hopes. But as soon as we make peace with ourselves and with what happen, we will be much much happier, the power of being ikhlas and accepting things as they happen.. Share your lessons learned from the problems you faced with some friends. No matter what, it's always better to be honest and express your true feelings to your friends.

Find a friend who when everybody has given up on you, will stay by your side no matter what. Have a lovely holiday! And happy ied mubarak :)


Senin, 13 Juli 2015

Request-an Onye dan Ebe

Diposting oleh Dian di 11.39 0 komentar
Agak sensitif kalau ngebahas tentang kuliah. Dan pagi ini mata dibuat berkaca-kaca karena diingatin sama masa-masa itu. Masa yang menyenangkan, masa dimana gue buat banyak kesalahan dan belajar banyak hal hal baru, masa dimana gue ketemu dan kenal orang-orang yang udah ngubah hidup gue jadi lebih baik, walaupun ada beberapa yang ngubah dengan cara yang sakit hehe. Hari sabtu lalu kelas gue selama 3 tahun kuliah EB14 ngadain acara bukber. Gue adalah salah satu orang yang awalnya minta acara itu diadain, tapi sayang pas hari H gue malah ngga bisa hadir diantara mereka semua. Beberapa minggu sebelum acara itu Onye dan Ebe minta gue ngebuatin video untuk EB14. Tapi masih belum ada waktu untuk bisa ngebuatnya, mungkin pas libur lebaran.

4 tahun waktu yang kita tunggu untuk dapat gelar sarjana udah berlalu dan udah hampir setahun kita semua resmi ngga harus belajar di satu ruang kelas yang sama. Kita ngga akan pernah tau apa yang terjadi dikedepannya. Gue cuma berharap, masih ada komunikasi satu sama lain. Layaknya sahabat, saudara yang saling membantu satu sama lain. Gue, juga akan berusaha ngebantu disaat mereka emang butuh bantuan. Perjalanan panjang hidup manusia emang ngga akan pernah berhenti sampe disini. Tapi mereka, udah jadi bagian dari rencana Tuhan. Mereka menjadi pelengkap dari potongan kisah yang ada, kisah yang udah pernah terjadi dan akan terus berlanjut ke depan. Mereka teman, sahabat, dan sodara terbaik yang semesta atur untuk dipertemukan satu sama lain. Dari awal yang tidak saling mengenal, jadi saling mengenal. Menciptakan cerita baru bersama mereka. Mereka.. adalah orang-orang hebat.

Kita semua saling berpencar satu sama lain, melanjutkan apa yang seharusnya diperjuangkan. Semoga, dengan semua cerita yang udah dibawa satu sama lain, pertemanan ini akan terus berlanjut hingga nanti. Termakasih sudah hadir selama 3 tahun yang panjang dan penuh kejutan. Terimakasih sudah menjadi bagian dalam sejarah pertemanan yang cukup baik. Kelak, ketika satu sama lain sudah sukses, jangan pernah lupakan kebersamaan yang dulu pernah terjalin. Kalian adalah orang-orang terbaik yang gue temuin dibangku kuliah.

Minggu, 05 Juli 2015

Do We Make Our Parents Proud?

Diposting oleh Dian di 21.26 0 komentar
Pernah ngga sih lo ngerasa bangga sama apa yang udah atau lagi lo lakuin sekarang? Pernah ngga sih lo ngerasa semua yang udah lo lakuin udah bisa bikin lo bangga dan ngebuat lo pengen ngelakuin itu terus? Jawabannya udah pasti pernah dan akan tetap terus dilakuin. Misalnya, kita bakalan bangga kalau kita bisa dikenal sebanggai Dian si anak pintar, atau Dika si pinter nyanyi? Kita merasa bangga dan senang sama atribut itu dan terus ngelakuinnya untuk ngedapetin pengakuan dari sekitar dan jungga kesenangan pribadi tentunya.

Oke, mungkin contoh di atas terlalu naif untuk di kategorikan sebagai sesuatu yang bisa dibanggain, tapi percaya atau ngga, kita bakal ngerasa senang dan bangga kalau dianggap sebagai “seseorang” di dalam lingkungan kampus, kantor ataupun pertemanan. Contoh lainnya, ada juga yang saat ini ngerasa senang sama pekerjaan yang dilakuinnya. Misalnya sebagai seorang penyiar yang bisa menghibur dan dikenal orang, atau sebagai seorang pelukis yang ngebuat lukisan tanpa mikirin bakal menghasilkan duit atau ngga, atau menjadi seorang penggawai kantoran yang hidupnya lebih jelas dan terjamin. Itu semua kita lakuin karena kita senang, ingin bahagia atau ngelakuinnya karena kita ingin ngikutin passion yang ada.

Tapi, pernah ngga lo mikirin apa yang udah kita lakuin juga ngebuat orang tua kita bangga dan senang? Sampai sekarang, pertanyaan ini sendiri masih belum bisa gue jawab, karena gue sendiri juga masih belum yakin apa yang gue lakuin sekarang ngebuat orang tua gue bangga atau senang. Mungkin aja mereka sebenarnya khawatir sama yang gue lakuin sekarang dan mikirin akan jadi apa gue nantinya di masa yang akan datang? Gue yakin, sebenarnya pertanyaan ini pernah muncul di pikiran kita, atau mungkin terlewatkan karena kita sibuk pengen menjadi sesuatu. Kita selalu berusaha keras buat ngedapetin yang kita pengen dan tujuan awalnya tentu aja supaya ngebuat orang tua kita jungga ngerasain hal yang sama. 

Percaya atau ngga, orang tua selalu ngarepin yang terbaik dari anaknya, itu pasti. Tapi, gimana kita bisa tau apa yang mereka rasain, kalau kita ngga pernah berusaha nanya? Secara pribadi, gue sendiri juga belum berani buat nanya ke mereka apakah mereka bangga sama semua yang udah gue lakuin dan raih. Susah memang buat memulai pembicaraan ini, tapi suatu saat nanti gue akan berusaha untuk menanyakannya dan menerima apapun jawaban dari mereka. Hanya satu pertanyaan kecil tapi memiliki pengaruh besar buat hidup kita “Do we make our parents proud?”.

Jumat, 03 Juli 2015

Pay It Forward

Diposting oleh Dian di 16.00 0 komentar
Selama ini gue terpaku sama teori bahwa disaat orang menolong kita, kita harus membalas budi orang yang menolong kita itu. Bentuk bales budi nya sih bisa macem-macem, mungkin dengan balik membantu atau cuma sekedar ngasih cokelat, eskrim, traktir makan atau apapun.

Tapi setelah nonton sebuah film, yang menurut gue inspiratif banget, gue jadi befikir ada yang bisa dimodifikasi dari teori yang gue sebut diatas tadi. Mungkin kamu bisa sepakat atau juga malah ga setuju sama pemikiran gue. Despite that, I just want to share it all with you.

Jadi ada film yang judulnya Pay It Forward yang bercerita tentang seorang anak berumur delapan tahun, bernama Trevor yang diberikan tugas oleh gurunya untuk memikirkan sebuah ide untuk mengubah dunia lalu ide itu harus diterapkan ke dalam sebuah tindakan.

Ide yang didapat oleh Trevor ini adalah dengan melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya, tetapi orang yang dia akan tolong ini adalah orang-orang yang memang tidak mampu melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri. Lalu setelah dia menolong tiga orang tersebut, maka untuk membalas budi, mereka masing-masing tidak perlu menolongnya, tetapi justru meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kebaikan lagi kepada tiga orang lainnya, dan begitu seterusnya. Menurut Trevor, kalau ide ini benar-benar dilakukan, maka dia yakin kalau suatu saat nanti dunia akan dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi. Ide nya tersebut dia namakan Pay It Forward, sesuai dengan judul dari filmnya.

Nah, berdasarkan cerita film ini mungkin kalo kita merenung sedikit, terkadang kita merasa ragu untuk menolong orang lain karena mungkin kita menyangka kalau bantuan yang kita berikan ngga akan berpengaruh besar juga di hidup mereka, karena sebenernya kan manusia harus bertanggung jawab terhadap hidupnya masing-masing. Tetapi ada alasan kenapa kita diciptakan sebagai makhluk sosial, yang memang membutuhkan keberadaan sesama. Salah satu alasannya adalah supaya kita saling tolong menolong.

Balik lagi ke teori Pay It Forward. Hal ini sangat memungkinkan untuk dilakukan dan langkah yang paling awal adalah kesiapan dan kerelaan kita untuk mulai dari diri sendiri untuk peduli dan melakukan kebaikan ke orang-orang disekitar kita.

Mungkin kamu punya pertanyaan, trus apa sih bedanya pay it forward sama pay it back? Dalam pay it back, apabila kamu menolong seseorang dan pada saat orang tersebut membalas kebaikan kamu, siklusnya berhenti disitu saja. Tetapi kalau di “Pay it forward” siklusnya bisa tak terhingga, karena pada saat kamu menolong orang lain, orang tersebut akan meneruskan untuk melakukan kebaikan lain pada orang lain lagi, dan akan terus berlanjut. 

Tapi bukan berarti kamu jadinya ngga boleh bales budi (pay it back) ke orang yang sudah menolong kamu lho. Gue ngga bilang kalo itu sesuatu yang salah juga, tapi gue berpendapat bahwa kalau kedua teori ini kita terapkan secara bersamaan akan lebih membantu untuk membangkitkan kembali rasa kemanusiaan yang mungkin sudah terasa sedikit pudar. Inti dari kedua teori ini kan sebenernya sama, yaitu melakukan kebaikan. Apalagi di zaman sekarang, kalau kita nonton berita di TV isinya kebanyakan tentang kejahatan dari ibu bunuh anaknya sendiri, atau bapak perkosa anaknya sendiri, sampe ada orang yang membunuh orang lain cuma gara-gara hal sepele. Serem ya.

Mungkin semuanya terdengar agak klise tapi tujuan gue melalui blog ini adalah pengen mengajak untuk lebih peduli dan peka lagi sama sekitar kita. Apalagi sama orang yang memang bener-bener membutuhkan bantuan kita, as simple as bantuin mama untuk melakukan kegiatan rumah. Ngga terpaku sesuai filmnya juga, kalau mau nolong orang harus ke tiga orang, nope. Kalau emang kita cuma mampu menolong satu orang juga ngga masalah kok, asal dilakukan dengan ikhlas.

But then again, to encourage you a bit more, coba deh kamu inget-inget kalo setelah kamu melakukan sesuatu kebaikan, apa yang kamu rasakan? Apakah yang kamu rasain adalah rasa tenang dan senang? Kalau iya, menyenangkan bukan bisa merasa seperti itu? So let’s spread the goodness and pass it on. Pay it forward to others around us.

 

Dian Mahardika Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea